
Pada 30 Juli 26, IDN Financials memberitakan Tsingshan menghentikan sementara sebagian ekspor produk nikel dari Indonesia. Nikel dan turunannya merupakan unggulan ekspor Indonesia.
Jika ekspor berkurang, apakah nilai tukar Rupiah berisiko tertekan terhadap dolar AS?
Tsingshan Holding Group adalah grup industri swasta asal China. Skalanya sangat besar, dalam Fortune Global 500 tahun 2026, Tsingshan menempati peringkat ke-254, dengan pendapatan sekitar US$60,1 miliar ~ Rp 1.080 T. Bisnis Tsingshan sudah terintegrasi dari pertambangan dan pengolahan nikel hingga stainless steel serta material baterai. Bisa disebut bahwa Tsingshan itu Raksasa Nickel-Stainless Steel dunia.
Tsingshan mulai berinvestasi di Indonesia pada 2009. Basis utamanya adalah IMIP Morowali, yang mengintegrasikan pengolahan nikel, NPI, ferrochrome, peleburan stainless steel, hingga hot rolling dan cold rolling. Basis besar lainnya adalah IWIP di Halmahera, Maluku Utara, kawasan terpadu untuk pengolahan mineral dan komponen baterai kendaraan listrik. Artinya, Indonesia bukan sekadar pemasok bahan mentah, tetapi telah menjadi salah satu pusat produksi global Tsingshan.
Ketika ada larangan ekspor tambang mentah pada masa pemerintahan Joko Widodo, Tsingshan melalui IMIP, mereka membawa modal, teknologi, pasar, serta model industri terintegrasi dari NPI hingga stainless steel dalam skala yang sebelumnya belum pernah ada di Indonesia. Alhasil olahan Nikel yaitu besi dan baja (HS72) menjadi komoditas unggulan ekspor Indonesia setelah sebelumnya didominasi oleh Sawit (CPO) dan Batu Bara selama bertahun-tahun.
Nilai ekspor besi baja pada tahun 2025 mencapai USD 27.97 Miliar ~ Rp 504 T, bandingkan pada waktu ekspor bahan mentah hanya USD 1-2 Miliar per tahun saja, lebih besar dari Batubara dan CPO. Dengan angka ini, sebetulnya Indonesia daripada disebut Raja Sawit, lebih tepat disebut Raja Nikel.

Keberhasilan hilirisasi Nikel mulai mengalami kendala di 2026
- Dimulai pengurangan kuota produksi tambang nikel, yang menyebabkan pabrik smelter kekurangan pasokan.
- Untuk Nikel yang diolah menjadi Baterai, membutuhkan Sulfur yang 75% dari Timur Tengah, praktis dengan penutupan Selat Hormuz, supply terganggu dan harga naik tinggi dari sekitar USD 500an per ton menjadi USD 8000-1000 per ton.
- Yang terbaru dari berita IDN News, karena ini karena Rare Earth Element atau Unsur Tanah Jarang. (https://t.co/OAqZqPpsDE)

Jadi jika Nikel diolah jadi Besi Baja itu disebut Nickel Pig Iron (NPI), sementara yang diolah jadi baterai itu Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). NPI tidak ada masalah. Untuk MHP, ada kendala. Permendag No. 6 Tahun 2026 melarang ekspor MHP berkadar nikel di bawah 25%. Sementara MHP berkadar minimal 25% tetap dapat diekspor dengan Laporan Surveyor. Kendala terbaru muncul karena pemeriksaan tambahan atas kandungan LTJ, sementara batas toleransi LTJ sebagai unsur ikutan dalam MHP belum diatur secara jelas. Untuk MHP sendiri masuk dalam HS Code 75, berdasarkan data Jan-Mei 26, mengalami pertumbuhan 72% dari periode yang sama sebelumnya.

Dalam situasi Neraca Ekspor Impor yang pertama kali defisit di bulan Mei 2026, setelah sebelumnya selalu surplus sejak 2020, penghentian sementara ekspor ini bisa berdampak negatif terhadap cadangan devisa dan nantinya kekuatan nilai tukar Rp terhadap USD. Dalam kondisi normal, jika terjadi defisit kembali di data Juni dan Juli, maka akan menjadi sentimen negatif terhadap nilai tukar Rp terhadap USD.

Di satu sisi, Indonesia sedang beruntung. Perang US dan Iran menghabiskan banyak anggaran berpotensi membuat APBN US defisit besar. Nilai Yen yang terus jatuh, membuat US khawatir pemerintah Jepang menjual obligasi US Dollarnya. Untuk itu Departemen Keuangan US melakukan intervensi dengan membeli Yen supaya menguat
Ada pula isu bahwa Bank Sentral US belum akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Akibatnya US Dollar Index (DXY) dari 101 turun ke 99.

Jadi analisa nilai tukar itu sangat kompleks, ada faktor domestiknya, tapi banyak juga pengaruh internasional sama seperti saham. Menurunnya DXY ke 99 menjadi kesempatan emas bagi Bank Indonesia untuk menguatkan nilai tukar Rp terhadap US Dollar. Semoga nilai tukar bisa sesuai dengan asumsi APBN di Rp 17.500an.
Have a nice day

Tinggalkan komentar