Asing Terus Net Sell, Bagaimana Nasib IHSG ?

Pada tanggal 12 Jan 2023 investor asing melanjutkan penjualan Asing mencatat net sell 220.7 M di reguler dan 241.6 M di pasar tunai negosiasi, shg total jual 462 M di semua pasar

Tren net sell asing ini sudah berjalan sejak akhir tahun 2022 hingga awal Januari ini.

Namun IHSG naik 0.69%, bahkan di pertengahan sempat 1%++, apa artinya? Bagaimana nasib IHSG?

Persiapan Investor Reksa Dana 2023

Kinerja IHSG pada tahun 2022 ditutup naik 4.09%, sementara Indeks Harga Obligasi Pemerintah naik 2.50%. Meski bukan angka yang terlalu tinggi, masih lebih baik dibandingkan negara lain yang mayoritas negatif. Bagaimana dengan 2023, seperti apa persiapan bagi investor yang mau memulai investasi reksa dana?

Kinerja IHSG sebenarnya sempat cukup lama bertahan di atas level 7000an. Namun penurunan signifikan harga saham GOTO yang masuk dalam IDX-30 dan LQ-45 di bulan Desember dimana bobotnya masuk dalam 5 besar “memaksa” IHSG, IDX-30, dan LQ-45 turun dalam.

Jika IHSG +4.09%, LQ-45 Cuma +0.62% dan IDX-30 bahkan -1.80%. Apabila saham GOTO dikeluarkan dari perhitungan indeks, seperti Indeks Sri Kehati yang “kebetulan” tidak ada saham teknologi, kinerjanya di 2022 adalah +14%. 

Selisih yang cukup jauh antara indeks saham likuid seperti LQ-45 dan IDX-30 dan Sri Kehati juga tercermin dari kinerja reksa dana saham. Bagi yang bobot saham teknologinya cukup besar dari awal tahun, kemungkinan mendekati LQ-45 dan IDX-30, sementara bagi yang kecil atau melakukan pengelolaan aktif, kinerjanya mendekati atau bahkan di atas Sri Kehati.

Sebetulnya saham teknologi bukan satu-satunya penentu kinerja reksa dana saham. Bagi yang melakukan pengelolaan aktif dengan memilih saham berdasarkan fundamental dan valuasi, kinerja reksa dana juga bisa lebih baik dari rata-rata pasar.

Bagaimana dengan kinerja IHSG 2023?

Salah satu alasan derasnya aliran dana asing masuk ke Indonesia di 2022 adalah booming komoditas terutama batu bara. Namun akibat resesi global terutama di Amerika Serikat dan Eropa, serta harga minyak dan gas telah turun, ada kekhawatiran harga batu bara juga akan menyusul turun.

Selama tahun 2022, tingginya harga batu bara menjadi sentimen positif IHSG di mata investor asing. Kekhawatiran akan harga batu bara 2023 yang tidak sebaik 2022 membuat  persepsi investor asing akan pasar modal Indonesia berubah dan menjadi pemicu aksi net sell di pasar saham sejak bulan Desember 2022 hingga awal Januari 2023 ini.

Apakah perubahan persepsi investor asing ini merupakan sesuatu yang harus dikhawatirkan? Pertama perlu dipahami bahwa persepsi itu berubah dari waktu ke waktu. Bisa hari ini positif, besok negatif dan sebaliknya. Kedua, investor asing bukan penentu pergerakan IHSG di Indonesia karena peranan investor lokal juga semakin besar.

Laporan keuangan tahunan 2022 yang diperkirakan akan dipublikasikan dari Februari hingga April nanti berpotensi menjadi sentimen positif karena secara umum meningkat dibandingkan 2021. Untuk 2023, dengan dicabutnya status PPKM dan wisatawan internasional juga perlahan pulih, kenaikan penjualan dan laba bersih masih akan berlanjut.

Bagaimana dengan potensi penurunan harga komoditas? Kata kuncinya adalah hilirisasi. Program hilirisasi nikel adalah contoh sukses dimana Indonesia tidak lagi tergantung pada harga komoditas. Hasil nilai ekspor produk olahan nikel nilainya lebih dari 10x lipat jika dibandingkan hanya ekspor bahan bakunya saja.

Apabila juga dilakukan pada komoditas lainnya seperti Bauksit di Juni 2023 dan Batu Bara dimana pengusaha diberikan insentif pembebasan royalti apabila melakukan hilirisasi, maka outlook Indonesia tidak akan terlalu terdampak lagi dengan fluktuasi nilai komoditas.

Keberhasilan akan hilirisasi bahan tambang akan menjadi penentu apakah booming komoditas akan terus berlanjut atau tidak. Bahkan lebih berkesinambungan, karena tidak tergantung pada harga komoditas yang amat berfluktuasi.

Bagaimana dengan resesi global? Inflasi tinggi akibat lonjakan harga energi yang dilanjutkan dengan kenaikan suku bunga secara signifikan oleh bank sentral memang membuat perekonomian terutama di negara Amerika Serikat dan Eropa terpukul. Sebagian sudah resesi, sebagian lagi mungkin menyusul di 2023 ini.

Namun perlu diketahui bahwa meskipun negara lain resesi, Indonesia tidak. Bahkan perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh di atas 4% tahun ini menurut perkiraan ekonom dan IMF.

Secara Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia, komponen terbesar adalah konsumsi domestik yang bobotnya di atas 50%. Porsi ekspor-impor hanya kurang dari 20%. Dalam kondisi resesi global, negara yang lebih banyak tergantung pada perekonomian domestik yang diperkirakan akan lebih bertahan.

Dari berbagai pertimbangan di atas, perkiraan nilai wajar untuk IHSG adalah 7800. Dibandingkan penutupan 2022 di level 6850, diharapkan ada kenaikan sekitar 13.8%.

Bagaimana dengan Obligasi di 2023?

Bertolak belakang dengan saham dimana Investor asing terus melakukan net sell, justru untuk obligasi pemerintah asing telah melakukan net buy hampir 28 Triliun dari bulan Desember 2022 hingga awal Januari 2023 ini.

Bukankah suku bunga Amerika Serikat dan Bank Indonesia masih berpotensi akan naik? Dan bukankah angka inflasi Indonesia meningkat dari 5.42% di November 2022 menjadi 5.51% di Desember 2022?

Memang benar suku bunga masih akan naik. Hal ini karena tingkat inflasi inti yang menjadi acuan bank sentral masih lebih tinggi dibandingkan tingkat suku bunganya. Kenaikan suku bunga diperlukan agar tingkat inflasi bisa turun lebih cepat.

Yang berbeda dengan 2022 adalah kenaikan suku bunga di 2023 ini akan lebih. Suku bunga US kemungkinan hanya akan naik 0.75% saja di 2023 dari 4.25-4.5 menjadi 5-5.25%. Amat berbeda dengan 2022 dimana naik dari 0 – 0.25 menjadi 4.25 – 4.5 atau 4.25%. Sebab angka inflasi Inti AS November 2022 sudah di 6% dan terus menunjukkan tren penurunan.

Kenaikan BI Rate juga mungkin cukup hanya 0.25-0.5% saja, karena per bulan Desember sudah di 5.5%. Angka ini sudah di atas tingkat inflasi inti 3,36%. Adapun diperlukan naik agar nilai tukar Rp tidak terlalu melemah dibandingkan USD.

Dengan turunnya harga minyak, harga gas, dan berbagai komoditas lainnya, tingkat inflasi 2023 di seluruh dunia dipastikan akan lebih rendah di 2022. Ditambah adanya kondisi resesi di Amerika Serikat dan Eropa, bukan tidak mungkin di semester 2-2023 ini diskusi akan penurunan suku bunga sudah dimulai.

Potensi bahwa suku bunga akan turun inilah yang mungkin saja menjadi penyebab investor asing yang tadinya banyak melakukan penjualan obligasi negara di sepanjang 2022 berbalik melakukan pembelian di Desember 2022 hingga saat ini.

Yield atau tingkat imbal hasil Surat Utang Negara 10 tahun yang menjadi acuan, diperkirakan akan turun dari level 7% saat ini menjadi 6.25-6.5% di akhir 2023. Penurunan Yield SUN berpotensi membuat harga obligasi naik sehingga menguntungkan bagi reksa dana pendapatan tetap.

Persiapan Investor Reksa Dana

Dari analisa di atas, secara umum outlook dari IHSG dan Obligasi adalah baik. Namun namanya juga saham, IHSG akan tetap lebih volatil dan rentan dengan berbagai isu baik dari dalam ataupun dari luar negeri. 

Sementara untuk obligasi, meski ada tetap ada volatilitas walaupun kecil, isu yang mempengaruhinya lebih terbatas yaitu inflasi dan suku bunga. Jika 2022 temanya adalah inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga, maka di 2023 ada kemungkinan resesi akan menurunkan tingkat inflasi dengan cepat dan berpotensi membuat suku bunga turun.

Untuk itu, investor reksa dana perlu melakukan diversifikasi. Bagi investor yang profilnya agresif sekalipun, bobot di reksa dana pendapatan tetap setidaknya perlu ada 10-30%, sementara untuk investor yang profilnya konservatif, bobot di reksa dana berbasis obligasi ini bisa 50 – 70%.

Untuk pemilihan reksa dana saham juga perlu diversifikasi. Saat ini sudah banyak pilihan reksa dana saham dengan strategi yang berbeda. Ada yang pasif dengan mengacu ke indeks tertentu, ada juga yang aktif dengan value, growth investing, atau kombinasinya. 

Setidaknya investor perlu memilih setidaknya 2 atau 3 strategi yang berbeda supaya ketika ada 1 strategi yang kurang optimal, yang lainnya bisa menutupi kekurangan tersebut.

Timing juga penting, terutama untuk investasi di reksa dana berbasis saham. Pembelian bisa dengan cara kombinasi secara bertahap setiap bulan dan market timing. Jadi ada sebagian disimpan di reksa dana pasar uang dan ketika ada koreksi dalam, bisa dimanfaatkan untuk top up dalam jumlah yang relatif besar. 

Demikian, semoga bermanfaat.